Monday, February 16, 2009

Sebuah Refleksi

Sifat Tuhan sempurna, sedangkan manusia tidak. Keadilan Tuhan sempurna dari setiap aspek dan point of view, sedangkan keadilan seorang manusia hanya dari sisi yang tertangkap oleh panca inderanya yang terbatas, sehingga adil bagi seseorang belum tentu adil jika diterapkan pada yang lain.

Apa yang menimpaku saat ini entah harus disebut kegagalan atau didzalimi. Entah. Bukankah dalam hidup kita tidak pernah tahu pasti, kita hanya menduga, mengira-ngira. Dan kita juga tidak bisa menjustifikasi atau mengklaim satu hal yang kita yakini sebagai kebenaran, kecuali ada referensi yang mutlak kebenarannya, yang dalam terminologi Islam disebut dalil yang shahih.

Tuhan, aku tidak tahu pasti apakah yang telah terjadi sebagai kifarah dosaku atau ujian kesabaran bagiku...namun, yang pasti aku semakin menyadari bahwa tidak ada yang Maha Sempurna selain Engkau.

Apa yang telah terjadi benar-benar pahit. Aku harus mengeluarkan Rp.900.000 untuk sebuah huruf C, atau D untuk mata kuliah Kimia Fisik 3. Tidak ada kesempatan lagi untuk A, atau B.

Apa kesalahanku?

Birokrasi. Disanalah masalah tercover. Sedangkan kasus awalnya adalah gara-gara aku sakit typhus parah yang membuatku tidak bisa mengikuti UAS. Tuhan, aku tidak bisa lagi mendefinisikan itu. Kejam, dzalim, atau entah apa lagi. Atas nama disiplin, atas nama peraturan akademik, atas nama idealisme seorang dosen, dan aparat penyusun peraturan.

Aku benci.

Kalau benar idealisme seorang dosen terhadap ketaatan pada peraturan dan birokrasi itu benar, mengapa aku harus menuai kerugian yang besar seperti sekarang? Rugi waktu, finansial, dan ‚nilai’.
Kalau benar tindakan beliau, mengapa justru aku menderita? Dan mengapa pada saat mengalami kasus yang sama (katanya sudah terlambat waktu untuk ujian susulan) pada kasus mata kuliah Kimia Analitik 3, dosennya masih memberi kesempatan padaku untuk mengikuti ujian susulan? Beliau memberi kelonggaran dan fleksibilitas dari peraturan kaku yang tidak masuk akal dan tidak berpihak pada hati nurani dan kebenaran. Dan aku sangat berterimakasih padanya, you know who you are (It is only Allah Who give back all your good deeds to me).

Sembilan ratus ribu bukan jumlah yang kecil bagi seorang karyawan biasa di Indonesia, perlu bekerja hampir satu bulan penuh….sebanyak itu hanya untuk sebuah kesia-siaan? Apa hakikat dari pendidikan, ketika ilmu yang didapat hanya dinilai dari angka ujian, sedangkan dosennya sendiri tidak pernah peduli bahwa ada mahasiswa jujur dan ada yang tidak jujur (mencontek). Nilai E di hadapan dosen belum tentu E di hadapan Tuhan. Dan, sebaliknya.

Sebuah huruf yang entah mendeskripsikan nilai siapa (Hey, I’m not that stupid). Aku memahami semua yang telah diajarkan pada kuliah KF3, sungguh.

Last, but not least. Tidak ada kata yang lebih tepat untukku saat ini selain BERSABAR. Di balik setiap ujian pasti ada kebaikan yang dianugerahkan, hanya saja pengetahuanku begitu terbatas untuk bisa memahaminya.

Aku hanya mengatakan pada siapapun yang membaca ini, jika kita mendapat amanah menjadi seorang manager, atau dosen, atau posisi apapun yang memiliki kekuasaan terhadap pihak lain. Lihatlah ‚peraturan’ itu, siapa yang membuat, cobalah lihat dari sudut pandang pihak yang kita maksud. Tidak ada peraturan yang dibuat manusia yang mutlak kebenarannya. Semuanya fleksibel, longgarkan, berilah celah, selama itu tidak melanggar aturan Tuhan dan tidak mendzalimi pihak manapun. Jangan kaku. Jangan bersikap dan mengambil tindakan berdasarkan standar kebenaran menurut diri sendiri. Standarisasikan dengan peraturan Yang Maha Sempurna. Peraturan Tuhan. Sehingga kita tidak akan melenceng jauh dari jalan-Nya.

Kesabaran adalah lebih baik bagiku. Meskipun kenyataan sangat pahit.

0 comments: